Go to Success

   "picture0001"

Go to Success

Kesuksesan adalah milik mereka yang secara sadar, tau apa yang menjadi keinginannya sekaligus siap menghadapi rintangan apapun yang menghadang serta mau memperjuangkannya habis habisan melalui cara-cara yang benar sampai mencapai tujuan akhir yaitu kesuksesan.

Pengertian sukses secara sederhana demikian, telah di praktekan oleh manusia sukses berabad abad lampau sampai saat ini sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Maka …untuk meraih kesuksesan yang maksimal, kita tidak memerlukan teori teori kosong yang rumit. Cukup tau akan nilai yang akan di capai dan take action! Ambil tindakan!

Salam Sukses Luar Biasa!!!

Pengembangan Kultur Sekolah sebagai Upaya Meningkatkan Kualitas Sekolah di SMAN 7 Pandeglang

Pengembangan Kultur Sekolah

sebagai Upaya Meningkatkan Kualitas Sekolah

di SMA Negeri 7 Pandeglang

Edi Supriyanto, S. Pd.

Abstraksi

Perbaikan mutu sekolah perlu memahami kultur sekolah yang bersangkutan. Melalui pemahaman kultur sekolah, berfungsinya sekolah dapat dipahami, aneka permasalahan dapat diketahui, dan pengalaman-pengalamannya dapat direfleksikan. Oleh sebab itu dengan memahami ciri-ciri kultur sekolah akan dapat diusahan tindakan nyata untuk peningkatan kualitas sekolah. Untuk mengetahui kultur sekolah baik yang bersifat positif maupun negatif penulis melakukan penelitian yang diberi judul ”Pengembangan Kultur Sekolah sebagai Upaya Meningkatkan Kualitas Sekolah di SMA Negeri 7 Pandeglang Tahun 2006”

Secara lebih rinci tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) menjelaskan konsep dasar kultur sekolah, komponen kultur sekolah, karakteristik kultur sekolah yang kondusif dan proses pengembangannya. (2) mengetahui aspek-aspek budaya (culture) apa saja yang bersifat positif maupun negatif di SMA Negeri 7 Pandeglang. (3) mengeneralisasikan aspek-aspek budaya (culture) SMA Negeri 7 Pandeglang yang bersifat positif maupu negatif memungkinkan untuk dikembangkan. (4) menjelaskan bagaimana rancangan tindakan pengembangan kultur sekolah yang dapat ditempuh oleh warga sekolah bagi pengembangan sekolah.

Rumusan maslah yang akan diuraikan di makalah ini adalah: (1) Apa dan bagaimana kultur sekolah yang kondusif? (2) Aspek-aspek budaya (culture) apa saja yang bersifat positif di SMA Negeri 7 Pandeglang? (3) Aspek-aspek budaya (culture) apa saja yang bersifat negatif di SMA Negeri 7 Pandeglang? (4) Bagaimana rancangan tindakan pengembangan kultur sekolah yang dapat ditempuh oleh sekolah untuk meningkatkan kualitas sekolah?

Kultur sekolah yang kondusif adalah keseluruhan latar fisik, lingkungan, suasana, rasa, sifat, dan iklim sekolah yang secara produktif mampu memberikan pengalaman baik bagi bertumbuhkembangnya siswa yang diharapkan.

Aspek-aspek budaya (culture) positif dengan skor rata-rata > 3,5 yang dimiliki SMA Negeri 7 Pandeglang antara lain adalah aspek akademik, sosial, interaksi Kepala Sekolah dengan Guru untuk aspek sosial, Interaksi wali kelas atau guru dengan orangtua siswa, interaksi guru dengan siswa untuk aspek sosial, interaksi kepala sekolah dengan komite sekolah atau orang tua siswa, dan interaksi kepala sekolah dengan staf tata usaha untuk aspek akademik.

Selain aspek-aspek positif yang tersebut di atas SMA Negeri 7 Pandeglang juga mempunyai Kultur jujur/terbuka, saling percaya, kerjasama/kebersamaan, dan memberi teguran atau penghargaan yang berjalan dengan baik.

Aspek-aspek budaya (culture) negatif dengan rata-rata skor < 3,5 yang dimiliki SMA Negeri 7 Pandeglang antara lain adalah interaksi kepala sekolah dengan guru untuk aspek akademik, interaksi guru dengan guru untuk aspek akademik, interaksi guru dengan siswa untuk aspek akademik, dan interaksi kepala sekolah dengan staf tata usaha untuk aspek sosial.

Selain aspek-aspek negatif yang tersebut di atas SMA Negeri 7 Pandeglang juga masih mempunyai kultur yang perlu ditingkatkan, yaitu antara lain kultur atau budaya membaca, disiplin dan efisiensi, bersih, dan berprestasi atau berkompetisi.

Dalam pengembangan kultur sekolah, perlu melihat setiap butir dari semua aspek yang masih memiliki skor kecil atau kurang dari 3,5. Selain itu juga perlu memperhatikan aspek-aspek lain maupun saran-saran dari semua pihak dan sebaikkan dibentuk tim pengembang kultur sekolah dengan harapan kultur yang terbentuk merupakan hasil kerja dari semua warga sekolah yang harus ditaati dan dikembangkan sendiri oleh semua warga sekolah.

Bagi Pengawas dan Dinas Pendidikan sebagai pengambil kebijakan, sangat diharapkan dalam pengembangan kultur sekolah terutama aspek akademik di SMA Negeri 7 Pandeglang sangat diperlukan pengembangan perpustakaan dan laboratorium.

Untuk melakukan pengembangan kultur sekolah perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: pertama adalah memotret kultur sekolah sehingga diketahui kecenderungan kultur sekolah yang bersifat positif dan negatif, setelah itu baru menentukan indikator-indikator yang mempengaruhi kultur tersebut. Langkah berikutnya adalah memonitoring dan mengevaluasi perubahan yang dilakukan untuk kemudian membuat laporan dan memberikan tindak lanjut.

Kata Kunci: Kultur, Kultur Sekolah, Kualitas Sekolah

Penelitian Tindakan Kelas

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Oleh : Edi Supriyanto, S. Pd.

Pendahuluan

Anda adalah guru yang sudah banyak jam terbangnya, bukan? Pasti Anda punya banyak pengalaman, baik  manis maupun pahit, dalam mengajar. Pengalaman manis dapat Anda rasakan ketika siswa-siswa Anda berhasil meraih prestasi, yang sebagian merupakan kontribusi Anda. Dan, Anda pasti menginginkan siswa-siswa Anda selalu berhasil meraih prestasi terbaik. Namun, mungkin keinginan Anda yang mulia tersebut lebih sering tidak tercapai karena berbagai alasan. Misalnya, mungkin Anda sering menemukan siswa-siswa tidak bersemangat, kurang termotivasi, kurang percaya diri, kurang disiplin, kurang bertanggung jawab dsb. Pasti Anda sudah melakukan upaya untuk mengatasinya, tetapi mungkin hasilnya masih jauh dari yang Anda inginkan.

Dan Anda masih ingin mengatasi masalah-masalah yang Anda temukan di kelas, bukan? Mengapa tidak mencoba mengatasinya lewat suatu kegiatan penelitian tindakan?  Mendengar kata ’penelitian’ mungkin Anda ingat pengalaman pahit ketika dulu meneliti untuk skripsi Anda karena harus mengembangkan instrumen yang berkali-kali direvisi atas saran dosen pembimbing, harus minta ijin ke sana ke sini, harus terjun ke lapangan menemui responden, yang tidak selalu menyambut dengan ramah kedatangan Anda, harus  kecewa karena angket tidak semua dikembalikan, harus menganalisis data dan seirng tersandung masalah statistik, dan setelah analisis selesai, harus kecewa karena hasilnya tidak selalu siap dipraktikkan di dunia nyata.  dsb. Singkatnya, kegiatan penelitian tidak mudah karena pertanggungjawaban teoretisnya cukup berat.

Anda tidak perlu mengalami itu semua ketika Anda melakukan penelitian tindakan. Mengapa? Karena jenis penelitian ini memang berbeda dengan jenis penelitian lain. Kalau jenis penelitian lain layaknya dilakukan oleh para ilmuwan di kampus atau lembaga penelitian, penelitian tindakan layaknya dilakukan oleh para praktisi, termasuk Anda sebagai guru. Kalau jenis penelitian lainnya untuk mengembangkan teori, penelitian tindakan ditujukan untuk meningkatkan praktik lapangan. Jadi penelitian tindakan adalah jenis penelitian yang cocok untuk para praktisi, termasuk guru.

Mari kita bicarakan hal ikhwal tentang penelitian tindakan. Kalau Anda pernah mempelajarinya, pembicaraan ini berfungsi untuk menyegarkan kembali atau memperkaya apa yang telah Anda ketahui. Kalau Anda belum tahu banyak, lewat pembicaraan ini Anda akan mengenalnya, memahaminya, dan akhirnya berminat untuk melaksanakannya, untuk mencapai cita-cita Anda yang mulia, yaitu meningkatkan keberhasilan mendidik, mengajar dan melatih murid-murid Anda, yang akan memberikan sumbangan yang signifikan pada peningkatkan kualitas pendidikan nasional. Seperti tercantum  dalama UU No. 20/2003 tentang Sisdiknas, Pasal 3, pendidikan nasional befungsi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, yang merupakan salah satu tujuan kemerdekaan bangsa kita, seperti dinyatakan pada alinea keempat Pembukaan UUD 1945. Oleh sebab itu, upaya Anda untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas merupakan amalan mulia karena memberikan kontribusi dalam mengisi kemerdekaan yang telah direbut lewat pengorbanan yang tidak sedikit.

Mari kita menyamakan pemahaman tentang apa yang dimaksud dengan penelitian tindakan kelas (PTK).

Apa yang Dimaksud dengan PTK dan Apa Ciri-cirinya?

Karena penelitian tindakan cocok untuk para praktisi yang bergelut dengan dunia nyata, maka ia cocok untuk Anda sebagai guru. Anda mungkin heran kenapa istilah ’penelitian’ yang biasanya berkenaan dengan teori sekarang dijodohkan dengan istilah ’tindakan’. Keheranan Anda tidak berlebihan karena memang jenis penelitian ini tergolong muda dibandingkan dengan penelitian tradisional yang telah ratusan tahun dikembangkan. Uraian beberapa butir di bawah ini akan dapat membantu Anda dalam memahami apa yang dimaksud dengan penelitian tindakan (Silakan baca Burns, 1999: 30; Kemmis & McTaggrt, 1982: 5; Reason & Bradbury, 2001: 1).

Penelitian tindakan merupakan intervensi  praktik dunia nyata yang ditujukan untuk meningkatkan situasi praktis. Tentu penelitian tindakan yang dilakukan oleh guru ditujukan untuk meningkatkan situasi pembelajaran yang menjadi tanggung jawabnya dan ia disebut ’penelitian tindakan kelas’ atau PTK.

Apakah kegiatan penelitian tindakan tidak akan mengganggu proses pembelajaran? Sama sekali tidak, karena justru ia dilakukan dalam proses pembelajaran yang alami di kelas sesuai dengan jadwal. Kalau begitu, apakah penelitian tindakan kelas (PTK) bersifat situasional, kontekstual, berskala kecil, terlokalisasi, dan secara langsung gayut (relevan) dengan situasi nyata dalam dunia kerja? Benar. Apakah berarti bahwa subyek dalam PTK termasuk murid-murid Anda? Benar. Lalu bagaimana cara untuk menjaga kualitas PTK? Apakah boleh bekerjasama dengan guru lain? Benar. Anda bisa melibatkan guru lain yang mengajar bidang pelajaran yang sama, yang akan berfungsi sebagai kolaborator Anda.

Karena situasi kelas sangat dinamis dalam konteks kehidupan sekolah yang dinamis pula, apakah peneliti perlu menyesuaikan diri dengan dinamika yang ada? Benar. Anda memang dituntut untuk adaptif dan fleksibel agar kegiatan PTK Anda selaras dengan situasi yang ada, tetapi tetap mampu menjaga agar proses mengarah pada tercapainya perbaikan. Hal ini menuntut komitmen untuk berpartisipasi dan kerjasama dari semua orang yang terlibat, yang mampu melakukan evaluasi diri secara kontinyu sehingga perbaikan demi perbaikan, betapapun kecilnya, dapat diraih.  Kalau begitu, apakah diperlukan kerangka kerja agar masalah praktis dapat dipecahkan dalam situasi nyata? Benar. Tindakan dilaksanakan secara terencana, hasilnya direkam dan dianalisis dari waktu ke waktu untuk dijadikan landasan dalam melakukan modifikasi.

Apa syarat-syarat agar PTK Anda berhasil?

Untuk dapat meraih perubahan yang diinginkan melalui PTK, apakah ada syarat-syarat lain? Betul, silakan baca McNiff, Lomax dan Whitehead (2003). Pertama, Anda dan kolaborator serta murid-murid harus punya tekad dan komitmen untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan komitmen itu terwujud dalam keterlibatan mereka dalam seluruh kegiatan PTK secara proporsional. Andil itu mungkin terwujud jika ada maksud yang jelas dalam melakukan intervensi tersebut. Kedua, Anda dan kolaborator menjadi pusat dari penelitian sehingga dituntut untuk bertanggung jawab atas peningkatan yang akan dicapai. Ketiga, tindakan yang Anda lakukan hendaknya didasarkan pada pengetahun, baik pengetahuan konseptual dari tinjauan pustaka teoretis, maupun pengetahuan teknis prosedural, yang diperoleh lewat refleksi kritis dan dipadukan dengan pengalaman orang lain dari tinjauan pustaka hasil penelitian tindakan), berdasarkan nilai-nilai yang diyakini kebenarannya. Refleksi kritis dapat dilakukan dengan baik jika didukung oleh keterbukaan dan kejujuran terhadap diri sendiri, khususnya kejujuran mengakui kelemahan/kekurangan diri.  Keempat, tindakan tersebut dilakukan atas dasar komitmen kuat dan keyakinan bahwa situasi dapat diubah ke arah perbaikan. Kelima, penelitian tindakan melibatkan pengajuan pertanyaan agar dapat melakukan perubahan melalui tindakan yang disadari dalam konteks yang ada dengan seluruh kerumitannya. Keenam, Anda mesti mamantau secara sistematik agar Anda mengetahui dengan mudah arah dan jenis perbaikan, yang semuanya berkenaan dengan pemahaman yang lebih baik terkadap praktik dan pemahaman tentang bagaimana perbaikan ini telah terjadi. Kutujuh, Anda perlu membuat deskripsi otentik objektif (bukan penjelasan) tentang tindakan yang dilaksanakan dalam riwayat faktual, perekaman video and audio,  riwayat subjektif yang diambil dari buku harian dan refleksi dan observasi pribadi, dan riwayat fiksional. Kedelapan, Anda perlu memberi penjelasan tentang tindakan berdasarkan deskripsi autentik tersebut di atas, yang mencakup (1) identifikasi makna-makna yang mungkin diperoleh (dibantu) wawasan teoretik yang relevan, pengaitan dengan penelitian lain (misalnya lewat tinjauan pustaka di mana kesetujuan dan ketidaksetujuan dengan pakar lain perlu dijelaskan), dan konstruksi model (dalam konteks praktik terkait) bersama penjelasannya; (2) mempermasalahkan deskripsi terkait, yaitu secara kritis mempertanyakan motif tindakan dan evaluasi terhadap hasilnya; dan (3) teorisasi, yang dilahirkan dengan memberikan penjelasan tentang apa yang dilakukan dengan cara tertentu. Kesembilan,Anda perlu menyajikan laporan hasil PTK dalam berbagai bentuk termasuk: (1) tulisan tentang hasil refleksi-diri, dalam bentuk catatan harian dan dialog, yaitu percakapan dengan dirinya sendiri; (2) percakapan tertulis, yang dialogis, dengan gambaran jelas tentang proses percakapan tersebut; (3) narasi dan cerita; dan (4) bentuk visual seperti diagram, gambar, dan grafik. Kesepuluh, Anda perlu memvalidasi pernyataan Anda tentang keberhasilan tindakan Anda lewat pemeriksaan kritis dengan mencocokkan pernyataan dengan bukti (data mentah), baik dilakukan sendiri maupun bersama teman (validasi-diri), meminta teman sejawat untuk memeriksanya  dengan masukan dipakai untuk memperbaikinya (validasi sejawat), dan terakhir menyajikan hasil seminar dalam suatu seminar (validasi public). Perlu dipastikan bahwa temuan validasi selaras satu sama lain karena semuanya berdasarkan pemeriksaan terhadap penyataan dan data mentah. Jika ada perbedaan, pasti ada sesuatu yang masih harus dicermati kembali.

Apa yang dapat Dicapai lewat Penelitian Tindakan Kelas?

Pertanyaan ini dapat diubah menjadi, ”Kapan Anda secara tepat dapat melakukan PTK?” Jawabnya: Ketika Anda ingin meningkatkan kualitas pembelajaran yang menjadi tanggung jawab Anda dan sekaligus ingin melibatkan murid-murid Anda dalam proses pembelajaran (lihat Cohen dan Manion, 1980). Dengan kata lain, Anda ingin meningkatkan praktik pembelajaran, pemahaman Anda terhadap praktik tersebut, dan situasi pembelajaran kelas Anda (Grundy & Kemmis, 1982: 84). Dapat dikatakan bahwa tujuan utama PTK adalah untuk mengubah perilaku pengajaran Anda, perilaku murid-murid Anda di kelas, dan/atau mengubah kerangka kerja melaksanakan pembelajaran kelas Anda. Jadi, PTK lazimnya dimaksudkan untuk mengembangkan keterampilan atau pendekatan baru pembelajaran dan untuk memecahkan masalah dengan penerapan langsung di ruang kelas.

PTK berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan pembelajaran kelas. Di ruangan kelas, PTK dapat berfungsi sebagai (Cohen & Manion, 1980: 211): (a) alat untuk mengatasi masalah-masalah yang didiagnosis dalam situasi pembelajaran di kelas; (b) alat pelatihan dalam-jabatan, membekali guru dengan keterampilan dan metode baru dan mendorong timbulnya kesadaran-diri, khususnya melalui pengajaran sejawat; (c) alat untuk memasukkan ke dalam sistem yang ada (secara alami)  pendekatan tambahan atau inovatif; (d) alat untuk meningkatkan komunikasi yang biasanya buruk antara guru dan peneliti; (e) alat untuk menyediakan alternatif bagi pendekatan yang subjektif, impresionistik terhadap pemecahan masalah kelas. Ada dua butir penting yang perlu disebut di sini. Pertama, hasil penelitian tindakan dipakai sendiri oleh penelitinya, dan tentu saja oleh orang lain yang menginginkannya. Kedua, penelitiannya terjadi di dalam situasi nyata yang pemecahan masalahnya segera diperlukan, dan hasil-hasilnya langsung diterapkan/dipraktikkan dalam situasi terkait. Ketiga, peneliti tindakan melakukan sendiri pengelolaan, penelitian, dan sekaligus pengembangan.

Kriteria dalam Penelitian Tindakan

Benarkah PTk harus memenuhi kriteria tertentu? Benar.  Seperti layaknya penelitian, PTK harus memenuhi kriteria validitas. Akan tetapi, makna dasar validitas untuk penelitian tindakan condong ke makna dasar validitas dalam penelitian kualitatif, yaitu makna langsung dan lokal dari tindakan sebatas sudut pandang peserta penelitiannya (Erickson, 1986, disitir oleh  Burns, 1999). Jadi kredibilitas penafsiran peneliti dipandang lebih penting daripada validitas internal (Davis, 1995, disitir oleh Burns, 1999). Karena PTK bersifat transformatif, maka kriteria yang cocok adalah validitas demokratik, validitas hasil, validitas proses, validitas katalitik, dan validitas dialogis, yang harus dipenuhi dari awal sampai akhir penelitian, yaitu dari refleksi awal saat kesadaran akan kekurangan muncul sampai pelaporan hasil penelitiannya (Burns, 1999: 161-162, menyitir Anderson dkk,1994).

Validitas: demokratik, hasil, proses, katalitik, dan dialoguis

Validitas Demokratik berkenaan dengan kadar kekolaboratifan penelitian dan pencakupan berbagai suara. Dalam PTk, idealnya Anda, guru lain/pakar sebagai kolaborator, dan murid-murid Anda masing-masing diberi kesempatan menyuarakan apa yang dipikirkan dan dirasakan serta dialaminya selama penelitian berlangsung. Pertanyaan kunci mencakup:  Apakah semua pemangku kepentingan (stakeholders) PTK (guru, kolaborator, administrator, mahasiswa, orang tua) dapat menawarkan pandangannya? Apakah solusi masalah di kelas Anda memberikan manfaat kepada mereka? Apakah solusinya memiliki relevansi atau keterterapan pada konteks kelas Anda? Semua pemangku kepentingan di atas diberi kesempatan dan/atau didorong lewat berbagai cara yang cocok dalam situasi budaya setempat untuk mengungkapkan pendapatnya, gagasan-gagasannya, dan sikapnya terhadap persoalan pembelajaran kelas Anda, yang fokusnya adalah pencarian solusi untuk peningkatan praktik dalam situasi pembelajaran kelas Anda. Misalnya, dalam kasus penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran bahasa Inggris, pada tahap refleksi awal guru-guru yang berkolaborasi untuk melakukan penelitian tindakan kelas, siswa, Kepala Sekolah, dan juga orang tua siswa, diberi kesempatan dan/atau didorong untuk mengungkapkan pandangan dan pendapatnya tentang situasi dan kondisi pembelajaran bahasa Inggris di sekolah terkait. Hal ini dilakukan  untuk mencapai suatu kesepatakan bahwa memang ada kekurangan yang perlu diperbaiki dan kekurangan tersebut perlu diperbaiki dalam konteks yang ada, atau juga disebut kesepakatan tentang latar belakang penelitian. Selanjutnya, diciptakan proses yang sama untuk mencapai kesepakatan tentang masalah-masalah apa yang ada, yaitu identifikasi masalah, dan tentang masalah apa yang akan menjadi fokus penelitian atau pembatasan masalah penelitian. Kemudian, proses yang sama berlanjut untuk merumuskan pertanyaan penelitian atau merumuskan hipotesis tindakan yang akan menjadi dasar bagi perencanaan tindakan, yang juga dilaksanakan melalui proses yang melibatkan semua peserta penelitian untuk mengungkapkan pandangan dan pendapat serta gagasan-gagasannya. Proses yang mendorong setiap peserta penelitian untuk mengungkapkan atau menyuarakan pandangan, pendapat, dan gagasannya ini diciptakan sepanjang penelitian berlangsung.

Validitas Hasil  mengandung konsep bahwa tindakan kelas Anda membawa hasil yang sukses di dalam konteks PTK Anda. Hasil yang paling efektif tidak hanya melibatkan solusi masalah tetapi juga meletakkan kembali masalah ke dalam suatu kerangka sedemikian rupa sehingga melahirkan pertanyaan baru. Hal ini tergambar dalam siklus penelitian pada Gambar 1 di bawah, di mana ketika dilakukan refleksi pada akhir tindakan pemberian tugas yang menekankan kegiatan menggunakan bahasa Inggris lewat tugas ‘information gap’, ditemukan bahwa hanya sebagian kecil siswa menjadi aktif dan sebagian besar siswa merasa takut salah, cemas, dan malu berbicara. Maka timbul pertanyaan baru, ‘Apa yang mesti dilakukan untuk mengatasi agar siswa tidak takut salah, tidak cemas, dan tidak malu sehingga dengan suka rela aktif melibatkan diri dalam kegiatan pembelajaran?’ Hal ini menggambarkan bahwa pertanyaan baru timbul pada akhir suatu  tindakan yang dirancang untuk menjawab suatu pertanyaan, begitu seterusnya sehingga upaya perbaikan berjalan secara bertahap, berkesinambungan tidak pernah berhenti, mengikuti kedinamisan situasi dan kondisi. (Mohon dicermati uraian masing-masing tahap dan kesinambungan masalah yang timbul). Validitas hasil juga tergantung pada validitas proses pelaksanaan penelitian, yang merupakan kriteria berikutnya.

Validitas Proses berkenaan dengan ‘keterpercayaan’ dan ‘kompetensi’, yang dapat dipenuhi dengan menjawab sederet pertanyaan berikut: Mungkinkah menentukan seberapa memadai proses pelaksanaan PTK Anda? Misalnya, apakah Anda dan kolaborator Anda mampu terus belajar dari proses tindakan tersebut? Artinya, Anda dan kolaborator secara terus menerus dapat mengkritisi diri sendiri dalam situasi yang ada sehingga dapat melihat kekurangannya dan segera berupaya memperbaikinya. Apakah peristiwa atau perilaku dipandang dari perspektif yang berbeda dan melalui sumber data yang berbeda agar terjaga dari ancaman penafsiran yang ‘simplistik’ atau ‘rancu’?

Dalam kasus penelitian tindakan kelas bahasa Inggris yang disebut di atas, para peneliti dapat menentukan indikator kelas bahasa Inggris yang aktif, mungkin dengan menghitung berapa siswa yang aktif terlibat belajar menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi lewat tugas-tugas yang diberikan guru, dan berapa banyak bahasa Inggris yang diproduksi siswa, yang bisa dihitung dari jumlah kata/kalimat yang diproduksi dan lama waktu yang digunakan siswa untuk memproduksinya, serta adanya upaya guru memfasilitasi pemelajaran siswa. Kemudian jika keaktifan siswa terlalu rendah yang tercermin dalam sedikitnya ungkapan yang diproduksi, guru secara kritis merefleksi bersama kolaborator untuk mencari sebab-sebabnya dan menentukan cara-cara mengatasinya. Kalau diperlukan, siswa yang tidak aktif didorong untuk menyuarakan apa yang dirasakan sehingga mereka tidak mau aktif dan siswa yang aktif diminta mengungkapkan mengapa mereka aktif. Perlu juga ditemukan apakah ada perubahan pada diri siswa sesuai dengan indikator bahwa para siswa berubah lewat tindakan pertama berupa pemberian tugas ‘information gap’ dan tindakan kedua berupa pembelakuan kriteria penilaian, dan perubahan pada diri guru dari peran pemberi pengetahuan ke peran fasilitator dan penolong. Begitu seterusnya sehingga pemantauan terhadap perubahan hendaknya dilakukan secara cermat dan disimpulkan lewat dialog reflektif yang demokratik.

Perlu dicatat bahwa kompetensi peneliti dalam bidang terkait sangat menentukan kualitas proses yang diinginkan dan tingkat kemampuan untuk melakukan pengamatan dan membuat catatan lapangan. Dalam kasus penelitian tindakan kelas bahasa Inggris yang dicontohkan di atas, misalnya, kualitas proses akan sangat ditentukan oleh  wawasan, pengetahuan dan pemahaman sejati peneliti tentang (1) hakikat kompetensi komunikatif, (2) pembelajaran bahasa yang komunikatif  yang mencakup pendekatan komunikatif bersama metodologi dan teknik-tekniknya, dan (3) karakteristik siswanya (intelegensi, gaya belajar, variasi kognitif, kepribadian, motivasi, tingkat perkembangan/pemelajaran) dan pengaruhnya terhadap pembelajaran bahasa asing. Jika wawasan, pengetahuan dan pemahaman tersebut kuat, maka peneliti akan dapat dengan lebih mudah menentukan perilaku-perilaku mana yang menunjang tercapainya perubahan yang diinginkan dengan indikator yang tepat, dan juga perilaku-perilaku mana yang menghambatnya.

Namun demikian, hal ini masih harus didukung dengan kemampuan untuk mengumpulkan data, misalnya melakukan pengamatan dan membuat catatan lapangan dan harian. Dalam mengamati, tim peneliti dituntut untuk dapat bertindak seobjektif mungkin dalam memotret apa yang terjadi. Artinya, selama mengamati perhatiannya terfokus pada gejala yang dapat ditangkap lewat pancainderanya saja, yaitu apa yang didengar, dilihat, diraba (jika ada), dikecap (jika ada), dan tercium, yang terjadi pada semua peserta penelitian, dalam kasus di atas pada peneliti, guru dan siswa. Dalam pengamatan tersebut harus dijaga agar jangan sampai peneliti melakukan penilaian terhadap apa yang terjadi. Seperti telah diuraikan di depan, perlu dijaga agar tidak terjadi penyampuradukan antara deskripsi dan penafsiran. Kemudian, diperlukan kompetensi lain untuk membuat catatan lapangan dan harian tentang apa yang terjadi. Akan lebih baik jika para peneliti merekamnya  dengan kaset audio atau audio-visual sehingga catatan lapangan dapat lengkap. Singkatnya, kompetensi peneliti dalam bidang yang diteliti dan dalam pengumpulan data lewat pengamatan partisipan sangat menentukan kualitas proses tindakan dan pengumpulan data tentang proses tersebut.

Validitas Katalitik terkait dengan kadar pemahaman yang Anda capai realitas kehidupan kelas Anda dan cara mengelola perubahan di dalamnya, termasuk perubahan pemahaman Anda dan murid-murid terhadap peran masing-masing dan tindakan yang diambil sebagai akibat dari perubahan ini.

Dalam kasus penelitian tindakan kelas bahasa Inggris yang dicontohkan di atas, validitas katalitik dapat dilihat dari segi peningkatan pemahaman guru terhadap faktor-faktor yang dapat menghambat dan factor-faktor yang memfasilitasi pembelajaran. Misalnya faktor-faktor kepribadian (lihat Brown, 2000) seperti rasa takut salah dan malu melahirkan inhibition dan  kecemasan. Sebaliknya, upaya-upaya guru untuk mengorangkan siswa dengan mempertimbangkan pikiran dan perasaan serta mengapresiasi usaha belajarnya merupakan faktor positif yang memfasilitasi proses pembelajaran. Selain itu, validitas katalitik dapat juga ditunjukkan dalam peningkatan pemahaman terhadap peran baru yang mesti dijalani guru dalam  proses pembelajaran komunikatif. Peran baru tersebut mencakup peran fasilitator dan peran penolong serta peran pemantau kinerja. Validitas katalitik juga tercermin dalam adanya peningkatan pemahaman tentang perlunya menjaga agar hasil tindakan yang dilaksanakan tetap memotivasi semua yang terlibat untuk meningkatkan diri secara stabil alami dan berkelanjutan. Semua upaya memenuhi tuntutan validitas katalitik ini dilakukan  melalui siklus perencanaan tindakan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi.

Validitas Dialogik sejajar dengan proses review sejawat yang umum dipakai dalam penelitian akademik. Secara khas, nilai atau kebaikan penelitian dipantau melalui tinjauan sejawat untuk publikasi dalam jurnal akademik. Sama halnya, review sejawat dalam PTK berarti dialog dengan guru-guru lain, bisa lewat sarasehan atau dialog reflektif dengan ‘teman yang kritis’ atau  pelaku PTK lainnya, yang semuanya dapat bertindak sebagai ‘jaksa tanpa kompromi’.

Kriteria validitas dialogis ini dapat juga mulai dipenuhi ketika penelitian masih berlangsung, yaitu secara beriringan dengan pemenuhan kriteria demokratik. Yaitu, setelah seorang peserta mengungkapkan pandangan, pendapat, dan/atau gagasannya, dia akan meminta peserta lain untuk menanggapinya secara kritis sehingga terjadi dialog  kritis atau reflektif. Dengan demikian, kecenderungan untuk terlalu subjektif dan simplistik akan dapat dikurangi sampai sekecil mungkin. Untuk memperkuat validitas dialogik, seperti telah disebut di atas, proses yang sama dilakukan dengan sejawat peneliti tindakan lainnya, yang jika memerlukan, diijinkan untuk memeriksa semua data mentah yang terkait dengan yang sedang dikritisi.

Trianggulasi untuk Mengurangi Subjektivitas

Bagaimana Anda meningkatkan validitas PTK Anda? Tidak lain dengan meminimalkan subjektivitas melalui trianggulasi. Anda sebagai pelaku PTK dapat menggunakan metode ganda dan perspektif  kolaborator Anda untuk memperoleh gambaran kaya yang lebih objektif. Bentuk lain dari trianggulasi adalah: trianggulasi waktu, trianggulasi ruang, trianggulasi peneliti, dan trianggulasi teoretis (Burns, 1999: 164). Trianggulasi waktu dapat dilakukan dengan mengumpulkan data dalam waktu yang berbeda, sedapat mungkin meliputi rentangan waktu tindakan dilaksanakan dengan frekuensi yang memadai untuk menjamin bahwa efek perilaku tertentu bukan hanya suatu kebetulan. Misalnya, data tentang proses pembelajaran dengan seperangkat teknik tertentu dapat dikumpulkan pada jam awal, tengah dan siang pada hari yang berbeda dan jumlah pengamatan yang memadai, katakanlah 4-5 kali. Trianggulasi peneliti dapat dilakukan dengan pengumpulan data yang sama  oleh beberapa  peneliti sampai diperoleh data yang relatif konstan. Misalnya, dua atau tiga peserta penelitian dapat mengamati proses pembelajaran yang sama dalam waktu yang sama pula. Trianggulasi ruang dapat dilakukan dengan mengumpulkan data yang sama di tempat yang berbeda. Dalam contoh proses pembelajaran bahasa Inggris di atas, ada dua atau tiga kelas yang dijadikan ajang penelitian yang sama dan data yang sama dikumpulkan dari kelas-kelas tersebut. Trianggulasi teoretis dapat dilakukan dengan memaknai gejala perilaku tertentu dengan dituntun oleh beberapa teori yang berbeda tetapi terkait. Misalnya, perilaku tertentu yang menyiratkan motivasi dapat ditinjau dari teori motivasi aliran yang berbeda: aliran behavioristik, kognitif, dan konstruktivis.

Reliabilitas

Reliabilitas data PTK Anda secara hakiki memang rendah. Mengapa? Karena situasi PTk terus berubah dan proses PTK bersifat transformatif tanpa kendali apapun (alami) sehingga sulit untuk mencapai tingkat reliabilitas yang tinggi, padahal tingkat reliabilitias tinggi hanya dapat dicapai dengan mengendalikan hampir seluruh aspek situasi yang dapat berubah (variabel) dan hal ini tidak mungkin atau tidak baik dilakukan dalam PTK. Mengapa tidak mungkin? Karena akan bertentangan dengan ciri khas penelitian tindakan itu sendiri, yang salah satunya adalah kontekstual/situasional dan terlokalisasi, dengan perubahan yang menjadi tujuannya. Penilaian peneliti menjadi salah satu tumpuan reliabilitas PTK. Cara-cara meyakinkan orang atas reliabilitas PTK termasuk: menyajikan (dalam lampiran)  data asli  seperti transkrip wawancara dan catatan lapangan (bila hasil penelitian dipublikasikan), menggunakan lebih dari satu sumber data untuk mendapatkan data yang sama dan kolaborasi dengan sejawat atau orang lain yang relevan.

Kelebihan dan Kekurangan PTK

PTK memiliki kelebihan berikut (Shumsky, 1982): (1) tumbuhnya rasa memiliki melalui kerja sama dalam PTK; (2) tumbuhnya kreativitias dan pemikiran kritis lewat interaksi terbuka yang bersifat  reflektif/evaluatif dalam PTK; (3)            dalam kerja sama ada saling merangsang untuk berubah; dan (4) meningkatnya kesepakatan lewat kerja sama demokratis dan dialogis dalam PTK (silakan lihat Passow, Miles, dan Draper, 1985).

PTK Anda juga memiliki kelemahan: (1) kurangnya pengetahuan dan keterampilan dalam teknik dasar penelitian pada Anda sendiri karena terlalu banyak berurusan dengan hal-hal praktis, (2)  rendahnya efisiensi waktu karena Anda  harus punya komitmen peneliti untuk terlibat dalam prosesnya sementara  Anda masih harus melakukan tugas rutin ; (3)  konsepsi proses kelompok yang menuntut pemimpin kelompok yang demokratis dengan kepekaan tinggi  terhadap kebutuhan dan keinginan anggota-anggota kelompoknya dalam situasi tertentu, padahal tidak mudah untuk mendapatkan pemimimpin demikian.

Persyaratan Keberhasilan PTK

Agar PTK berhasil, persyaratan berikut harus dipenuhi (Hodgkinson, 1988): (1) kesediaan untuk mengakui kekurangan diri; (2) kesempatan yang memadai untuk menemukan sesuatu yang baru; (3) dorongan untuk mengemukakan gagasan baru; (4) waktu yang tersedia untuk melakukan percobaan; (5) kepercayaan timbal balik antar orang-orang yang terlibat; dan (6)pengetahuan tentang dasar-dasar proses kelompok oleh peserta  penelitian.

Penelitian Tindakan Kolaboratif

Kolaborasi atau kerja sama perlu dan penting dilakukan dalam PTK karena PTK yang dilakukan secara perorangan bertentangan dengan hakikat PTK itu sendiri (Burns, 1999). Beberapa butir penting tentang PTK kolaboratif  Kemmis dan McTaggart (1988: 5;  Hill & Kerber, 1967, disitir oleh Cohen & Manion, 1985, dalam Burns, 1999: 31): (1) penelitian tindakan yang sejati adalah penelitian tindakan kolaboratif, yaitu yang dilakukan oleh sekelompok peneliti melalui kerja sama dan kerja bersama, (2) penelitian kelompok tersebut dapat dilaksanakan melalui tindakan anggota kelompok perorangan yang diperiksa secara kritis melalui refleksi demokratik dan dialogis; (3) optimalisasi fungsi PTK kolaboratif dengan mencakup gagasan-gagasan dan harapan-harapan semua orang yang terlibat dalam situasi terkait; (4) pengaruh langsung hasil PTK pada Anda sebagai guru dan murid-murid Anda serta sekaligus pada situasi dan kondisi yang ada.

Kolaborasi atau kerja sama dalam melakukan penelitian tindakan dapat dilakukan dengan: mahasiswa; sejawat dalam jurusan/sekolah/lembaga yang sama; sejawat dari lembaga/sekolah lain;  sejawat dengan wilayah keahlian yang berbeda (misalnya antara guru dan  pendidik guru, antara guru dan peneliti; antara guru dan manajer); sejawat dalam disiplin ilmu yang berbeda (misalnya antara guru bahasa asing dan guru bahasa ibu); dan sejawat di negara lain (Wallace, 1998).

Prinsip-prinsip penelitian tindakan kolaboratif

Tiga tahap PTK kolaboratif adalah: prakarsa, pelaksanaan, dan  diseminasi (Burns, 1999: 207-208). Butir-butir tentang prakarsa yang perlu dipertimbangkan dalam PTK Anda (Burns, 1999: 207):

1.      Sejauh dapat dilakukan, agenda PTK tindakan hendaknya ditarik dari kebutuhan-kebutuhan, kepedulian dan persyaratan yang diungkapkan oleh semua pihak Anda sendiri, sejawat, kepala sekolah, murid-murid, dan/atau orangtua murid) yang terlibat dalam konteks pembelajaran/kependidikan di kelas/sekolah Anda;

2.      PTK Anda hendaknya benar-benar memanfaatkan keterampilan, minat dan keterlibatan Anda sebagai guru dan sejawat;

3.      PTK Anda hendaknya terpusat pada masalah-masalah pembelajaran kelas Anda, yang ditemukan dalam kenyataan sehari-hari. Namun demikian, hasil PTK Anda daapt juga memberikan masukan untuk pengembangan teori pembelajaran bidang studi Anda;

4.      Metodologi PTK Anda hendaknya ditentukan dengan mempertimbangkan persoalan pembelajaran kelas Anda yang sedang diteliti, sumber daya yang ada dan murid-murid sebagai sasaran penelitian.

5.      PTK Anda hendaknya direncanakan, dilaksanakan dan dievaluasi  secara kolaboratif. Tujuan, metode, pelaksanaan dan strategi evaluasi hendaknya Anda negosiasikan dengan pemangku kepentingan (stakeholders) terutama penelitian Anda, sejawat, murid-murid, dan kepala sekolah (yang mungkin diperlukan dukungan kebijakannya).

6.      PTK Anda hendaknya bersifat antardisipliner, yaitu sedapat mungkin didukung oleh wawasan dan pengalaman orang-orang dari bidang-bidang lain yang relevan, seperti ilmu jiwa, antropologi, dan sosiologi serta budaya. Jadi Anda dapat mencari masukan dari teman-teman guru atau dosen LPTK yang relevan.

Dalam PTK, butir-butir pelaksanaan di bawah  harus dipertimbangkan  (Burns, 1999: 207-208):

1.      Anda sebagai pelaku PTK hendaknya berupaya memperoleh keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk melaksanakannya. Upayakan mendapatkan dari pemimpin dukungan dan bantuan secara terus menerus dalam tahap-tahap pelaksanaan, diseminasi, dan tindak-lanjut penelitiannya.

2.      PTK Anda selayaknya dilakukan dalam kelas sendiri.

3.      PTK Anda akan berjalan dengan baik jika terkait dengan program peningkatan guru dan pengembangan materi di sekolah atau wilayah sendiri.

4.      PTK Anda hendaknya dipadukan dengan komponen evaluasi.

Dalam tahap diseminasi PTK perlu dipertimbangkandua butir berikut (Burns, 1999: 208)

1.      Bentuk pelaporan hasil penelitian tindakan ditentukan oleh audiens sasaran. Jika audiens sasarannya adalah guru-guru bahasa Inggris di SD, misalnya, bentuk laporannya berbeda dengan jika audiens sasarannya adalah pendidik guru bahasa Inggris di universitas.

2.      Jaringan kerja dan mekanisme yang tersedia di dalam lembaga pendidikan Anda hendaknya digunakan untuk menyebarkan hasil penelitian terkait. Misalnya, penyebaran hasil penelitian dilakukan lewat simposium guru, sarasehan MGMP, atau seminar daerah.

Kelebihan  dan Kelemahan PTK Kolaboratif

Apa kelemahan dan kelebihan PTK? Kelebihannya seperti dikatakan Burns (1999: 13) sebagai berikut. Proses penelitian kolaboratif memperkuat kesempatan bagi hasil penelitian tentang praktik pendidikan untuk diumpanbalikkan ke sistem pendidikan dengan cara yang lebih substansial dan kritis. Proses tersebut mendorong guru untuk berbagi masalah-masalah umum dan bekerja sama sebagai masyarakat penelitian untuk memeriksa asumsi, nilai dan keyakinan yang sedang mereka pegang dalam kultur sosio-politik lembaga  tempat mereka bekerja. Proses kelompok dan tekanan kolektif  kemungkinan besar akan mendorong keterbukaan terhadap perubahan kebijakan dan praktik. Penelitian tindakan kolaboratif secara potensial lebih memberdayakan daripada penelitian tindakan yang dilakukan secara individu karena menawarkan kerangka kerja yang mantab untuk perubahan keseluruhan.

Selain itu, ada kelebihan lain dari PTK kolaboratif (Wallace, 1998: 209-210): (1) kedalaman dan cakupan, yang artinya makin banyak orang terlibat dalam proyek penelitian tindakan, makin banyak data dapat dikumpulkan, apakah dalam hal kedalaman  (misalnya studi kasus kelas bahasa Inggris) atau dalam hal cakupan (misalnya beberapa studi kasus suplementer; populasi yang lebih besar), atau dalam keduanya dan ini disebabkan makin banyak perspektif  yang digunakan akan makin intensif pemeriksaan terhadap data atau makin luas cakupan persoalan dalam hal tim peneliti saling berkolaborasi dalam meneliti kelasnya masing-masing; (2)  Validitas dan reliabilitas, yaitu keterlibatan orang lain akan mempermudah penyelidikan terhadap satu persoalan dari sudut yang berbeda, mungkin dengan menggunakan teknik penelitian yang berbeda (yaitu menggunakan trianggulasi); dan (3) Motivasi yang timbal lewat dinamika kelompok yang benar, di mana bekerja sebagai anggota tim lebih bersemangat daripada bekerja sendiri.

Kelemahan terbesar PTK kolaboratif  terkait dengan sulitnya mencapai keharmonisan kerjasama antara orang-orang yang berlatar belakang yang berbeda. Hal ini dapat dipecahkan dengan membicarakan aturan-aturan dasar (Wallace, 1998: 210), seperti yang tersirat dalam pertanyaan-pertanyaan berikut: Apa yang akan kita lakukan? Mengapa kita menangani masalah ini? (Apakah kita memiliki motivasi yang sama, atau motivasi yang berbeda?) Bagaimana kita akan melakukannya? (Siapa melakukan apa dan kapan?) Berapa banyak waktu masing-masing dari kita akan siap dihabiskan untuk keperluan ini? Berapa sering kita akan bertemu, di mana dan kapan? Apa hasil akhir yang diharapkan? (Suatu ceramah atau artikel; atau sekadar pengalaman yang sama?)

Kepustakaan:

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:1; mso-generic-font-family:roman; mso-font-format:other; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:””; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} p.MsoNoSpacing, li.MsoNoSpacing, div.MsoNoSpacing {mso-style-priority:1; mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault {mso-style-type:export-only; margin-bottom:10.0pt; line-height:115%;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

Arikunto, Suharsimi. 1993. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

Aqib, Zaenal. 2006. Penelitian Tindakan Kelas untuk Guru. Bandung: Yrama Widya.

Undang, Gunawan. 2008. Teknik Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Sayagatama.

Wijaya, Maman. 2000. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Dirjendikdasmen PPPG IPA.

…………….. 1999. Bahan Pelatihan Penelitian Tindakan (Action Research). Jakarta: Depdikbud Dirjendikdasmen Dirdikmenum.

RPP Fisika SMA Kelas X Semester 1

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

SEKOLAH : SMA NEGERI 7 PANDEGLANG

MATA PELAJARAN : FISIKA

KELAS / SEMESTER : X/1

ALOKASI WAKTU : 4 x 40 MENIT

A. Standar Kompetensi

Menerapkan konsep besaran fisika dan pengukurannya

B. Kompetensi Dasar

Mengukur besaran fisika ( massa, panjang dan waktu )

C. Indikator

- Membandingkan besaran pokok dan besaran turunan serta dapat memberikan contohnya dalam kehidupan sehari-hari

- Menerapkan satuan besaran pokok dalam Sistem Internasional

- Menentukan dimensi suatu besaran pokok

- Menerapkan analisis dimensional dalam pemecahan masalah

- Menyiapkan instrumen secara tepat serta melakukan pengukuran dengan benar berkaitan dengan besaran pokok panjang, massa dan waktu dengan mempertimbangkan aspek ketepatan (akurasi), kesalahan matematis yang memerlukan kaliberasi, ketelitian ( presisi ) dan kepekaan ( sensitivitas )

- Menjelaskan pengertian kesalahan sistematik dan acak serta memberi contoh

- Menghitung kesalahan sistematik dalam pengukuran

D. Tujuan Pembelajaran

- Siswa dapat membedakan besaran pokok dan besaran turunan beserta satuannya dalam SI.

- Siswa dapat menurunkan dimensi besaran turunan dari besaran pokok.

- Siswa dapat membaca hasil pengukuran massa, panjang dan waktu dengan menggunakan alat yang sesuai

E. Materi Pokok

Besaran dan Satuan

F. Metode Pembelajaran

- Inkuiri.

- Tanya jawab

- Penugasan

G. Skenario Pembelajaran

1. Pendahuluan

a. Mengingatkan tentang besaran pokok dan besaran turunan yg sudah dipelajari di SMP.

b. Memberikan contoh pengukuran dengan menggunakan alat ukur yg tepat dan tidak tepat, misalnya mengukur diameter cincin dengan meteran dan jangka sorong

2. Kegiatan Inti

Besaran Pokok

a. Menginformasikan 7 besaran pokok beserta symbol dan satuannya.

b. Menginformasikan cara mengukur panjang dengan mistar beserta ketelitiannya.

c. Menjelaskan bagian-bagian jangka sorong dan batas ketelitiannya.

d. Menginformasikan cara mengukur panjang dengan jangka sorong, misalnya mengukur diameter uang Rp. 100,00.

e. Menjelaskan bagian-bagian micrometer sekrup dan batas ketelitiannya.

f. Menginformasikan cara mengukur panjang dengan micrometer sekrup, misalnya pengukuran tebal uang logam Rp.100,00.

g. Memberitahukan cara menimbang dengan neraca Ohauss dua lengan.

h. Menginformasikan beberapa alat ukur waktu

Besaran Turunan

Menginformasikan beberapa besaran turunan, misalnya : massa jenis = r = m/V

Dimensi

a. Menginformasikan dimensi dari besaran pokok.

b. Menginformasikan dimensi dari beberapa besaran turunan.

c. Memberikan beberapa contoh penurunan dimensi dari beberapa besaran turunan.

d. Menjelaskan beberapa kesalahan sistematik dalam pengukuran.

e. Menjelaskan ketidakpastian pengukuran tunggal dan pengukuran berulang

3. Penutup

a. Mengevaluasi pemahaman siswa untuk menurunkan dimensi dari beberapa besaran turunan.

b. Menginformasikan materi pengayaan dimensi.

c. Siswa mencoba mengerjakan mini kuis mengenai beberapa alat ukur dan dimensi

H. Sumber Pembelajaran

1. Buku pegangan fisika kelas X

2. LKS fisika kelas X

3. Beberapa alat ukur panjang

4. Beberapa alat ukur massa

5. Beberapa alat ukur waktu

I. Penilaian

Jenis tagihan : Instrumen

Tugas : Uraian

Uji Kompetensi : Uraian

J. Instrumen

1. Sebutkan masing-masing 5 contoh besaran pokok dan besaran turunan beserta satuannya dalam SI !

2. Diturunkan dari besaran pokok apa saja besaran-besaran berikut ini :

a. kecepatan b. massa jenis

3. Sebutkan alat untuk mengukur :

a. tebal kertas b. diameter cincin

c. berat benda d. suhu tubuh

4. Laporkan hasil pengukuran panjang : a. b.

5. Tentukan dimensi dari besaran-besaran berikut ini :

a. gaya b. Percepatan

c. berat d. energi kinetik

Mengetahui Pandeglang, Juli 2008

Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran

Drs. Entik Haerani Edi Supriyanto, S. Pd.

NIP. 131484871 NIP. 132171350


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

SEKOLAH : SMA NEGERI 7 PANDEGLANG

MATA PELAJARAN : FISIKA

KELAS / SEMESTER : X/1

ALOKASI WAKTU : 2 x 40 MENIT

A. Standar Kompetensi

Menerapkan konsep besaran fisika dan pengukurannya

B. Kompetensi Dasar

Mengukur besaran fisika ( massa, panjang dan waktu )

C. Indikator

- Menggunakan alat ukur besaran panjang, massa dan waktu dengan beberapa jenis alat ukur.

- Mengukur besaran panjang, massa dan waktu dengan mempertimbangkan ketelitian dan ketepatan.

- Menghitung kesalahan sistematik dalam pengukuran.

- Mengolah data hasil pengukuran

D. Tujuan Pembelajaran

Siswa dapat melakukan pengukuran panjang, massa dan waktu dengan menggunakan alat ukur yang sesuai

E. Materi Pokok

Pengukuran

F. Metode Pembelajaran

Praktikum

G. Skenario Pembelajaran

1. Pendahuluan

Siswa mengerjakan mini kuis mengenai beberapa alat ukur

2. Kegiatan Inti

a. Siswa melakukan diskusi kelompok untuk memahami pengukuran..

b. Siswa melakukan praktikum dengan tujuan dapat memilih alat ukur suatu besaran dengan tepat danmembaca hasil pengukuran besaran.

c. Menjelaskan pengertian besaran dari hasil kegiatan praktikum sistem satuan.Siswa diminta menyebutkan alat-alat ukur yang digunakan dalam praktikum yang telah dilakukan.

d. Siswa menyebutkan hasil-hasil pengukuran yang diperoleh dari praktikum

3. Penutup

Guru dan siswa merefleksikan pembelajaran mengukur suatu besaran

H. Sumber Pembelajaran

1. Panduan praktikum.

2. Jangka sorong, micrometer skrup, stop-watch dan neraca atau timbangan.

3. Kertas folio, uang logam, potongan pipa dan batu.

4. Buku pegangan siswa fisika kelas X

I. Penilaian

Jenis tagihan : Instrumen

Tugas : Laporan Praktikum

J. Instrumen

Terlampir

Mengetahui Pandeglang, Juli 2008

Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran

Drs. Entik Haerani Edi Supriyanto, S. Pd.

NIP. 131484871 NIP. 132171350


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

SEKOLAH : SMA NEGERI 7 PANDEGLANG

MATA PELAJARAN : FISIKA

KELAS / SEMESTER : X/1

ALOKASI WAKTU : 6 x 40 MENIT

A. Standart Kompetensi

Menerapkan konsep besaran fisika dan pengukurannya

B. Kompetensi Dasar

Melakukan penjumlahan dan perkalian dua buah vector

C. Indikator

- Menjumlahkan dua vector atau lebih dengan metode jajar genjang dan poligon

- Menjumlahkan dua vector yang segaris atau membentuk sudut secara grafis dan menggunakan rumus cosinus

- Menguraikan sebuah vector dalam bidang datar menjadi dua vector komponen yang saling tegak lurus

- Menghitung hasil perkalian dua buah vector dengan cara perkalian titik

- Menghitung hasil perkalian dua buah vector dengan cara perkalian silang

D. Tujuan Pembelajaran

- Siswa dapat menentukan besar dan arah resultan vector

- Siswa dapat menghitung hasil perkalian dua buah vector

E. Materi Pokok

Besaran dan Satuan

F. Skenario Pembelajaran

1.Pendahuluan

Mengajak siswa berdiskusi untuk membedakan besaran vector dan besaran turunan

2.Kegiatan Inti

Menjumlahkan vektor

a. Menginformasikan pengertian besaran skalar dan besaran vector

b. Memberitahukan cara menuliskan vector dengan benar

c. Menginformasikan cara menentukan besar suatu vector

d. Memberitahukan cara menguraikan vector ke dalam komponen pada arah sumbu yang digunakan

e. Menginformasikan cara menjumlah dan mengurang vector secara geometris

Misal :

a. Metode Poligon

b.Metode Jajar Genjang

c. Secara Analitis

f. Membimbing siswa melakukan aktivitas tentang cara menjumlah vector

g. Menginformasikan cara menjumlah vector berdasarkan komponen vector satuan

Mengalikan Vektor

h.Memberitahukan cara perkalian titik dua vector ( dot product )

i. Memberitahukan cara perkalian silang dua vector ( cross product )

3.Penutup

j. Mengevaluasi pemahaman siswa tentang vector

G. Sumber Pembelajaran

a. Buku fisika pegangan siswa kelas X

b.LKS fisika kelas X

H. Penilaian

Jenis tagihan : Instrumen

Tugas : Uraian

Uji Kompetensi : Uraian

I. Instrumen

a. Terdapat 3 buah vector

Gambarlah vector p = A + B – C dengan metode : a. poligon b. jajar genjang

b.Dua buah vector yang sama besar 6 N, setitik tangkap dan saling mengapit sudut 1200. Tentukan besar resultan kedua vector !

c. Tentukan besar dan arah vector resultan !

d.A = 4i + 3j + k

B = i – j +2k

Hitunglah : a. A . B b. A x B

Mengetahui Pandeglang, Juli 2008

Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran

Drs. Entik Haerani Edi Supriyanto, S. Pd.

NIP. 131484871 NIP. 132171350

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

SEKOLAH : SMA NEGERI 7 PANDEGLANG

MATA PELAJARAN : FISIKA

KELAS / SEMESTER : X/1

ALOKASI WAKTU : 2 x 40 MENIT

A. Standar Kompetensi

Menerapkan konsep dan prinsip dasar kinematika dan dinamika benda

B. Kompetensi Dasar

Menganalisis besaran fisika pada gerak dengan kecepatan dan percepatan konstan

C. Indikator

- Membedakan jarak dan perpindahan

- Membedakan kecepatan rata-rata dan kecepatan sesaat

- Menyimpulkan karakteristik gerak lurus beraturan ( GLB ) melalui percobaan dan pengukuran

D. Tujuan Pembelajaran

Siswa dapat menyelesaikan soal-soal yang berhubungan dengan gerak lurus

E. Materi Pokok

Kinematika Gerak

F. Metode Pembelajaran

- Tanya jawab

- Demonstrasi

G. Skenario Pembelajaran

1. Pendahuluan

Memberikan contoh kegiatan sehari-hari yang berkaitan dengan gerak, misalnya orang berjalan

2. Kegiatan Inti

a. Membahas perbedaan jarak dan perbedaan

b. Membahas perbedaan kecepatan dan kelajuan

c. Memberikan contoh soal beserta penyelesaiannya yang berhubungan dengan kecepatan rata-rata dan kelajuan rata-rata

d. Membahas tentang kecepatan sesaat

Gerak Lurus Beraturan ( GLB )

a. Melakukan percobaan gerak lurus beraturan untuk menyimpulkan karakteristik GLB dan mengukur besaran-besaran pada GLB seperti perpindahan dan waktu tempuh.

b. Membahas tentang perpindahan dan jarak pada GLB

3. Penutup

a. Mengulas kembali pelajaran yang telah diajarkan sambil bertanya jawab dengan siswa.

b. Mengevaluasi pembelajaran dengan mengerjakan latihan dalam uji kompetensi dan hasilnya dikumpulkan

H. Sumber Pembelajaran

a. Buku fisika pegangan siswa kelas X

b. LKS fisika kelas X

c. Ticker timer, papan luncur, electromagnet, mobil-mobilan dan kertas grafik

d. Power supply, statip, mistar dan kabel

e. Stop watch dan beban

I. Penilaian

Jenis tagihan : Instrumen

Tugas : Uraian

Uji Kompetensi : Uraian

J. Instrumen

a. Benda bergerak 6 m ke timur selama 5 s, kemudian belok ke selatan sejauh 8 mselama 5 s. Tentukan jarak, perpindahan, kelajuan dan kecepatan gerak benda.

b. Dua benda A dan B berjarak 32 m satu sama lain. A bergerak dengan kecepatan 6 m/s dan B bergerak dengan kecepatan 2 m/s.

c. Kapan dan dimana keduanya saling bertemu jika geraknya saling menyongsong tetapi B berangkat 4 s lebih dulu.Sebuah mobil menempuh jarak 540 km dalam waktu 4,5 jam, tentukan jarak yang ditempuh mobil tersebut jika bergerak selama 8 jam !

d. Mobil a bergerak dengan kelajuan 100 km/jam dan berada 80 km di belakang mobil b yang bergerak dengan kelajuan 60 km/jam. Berapa jarak yang ditempuh mobil A sebelum menyusul mobil B ?

Mengetahui Pandeglang, Juli 2008

Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran

Drs. Entik Haerani Edi Supriyanto, S. Pd.

NIP. 131484871 NIP. 132171350

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

SEKOLAH : SMA NEGERI 7 PANDEGLANG

MATA PELAJARAN : FISIKA

KELAS / SEMESTER : X/1

ALOKASI WAKTU : 6 x 40 MENIT

A. Standar Kompetensi

Menerapkan konsep dan prinsip dasar kinematika dan dinamika benda

B. Kompetensi Dasar

Menganalisis besaran fisika pada gerak dengan kecepatan dan percepatan konstan

C. Indikator

a. Menyimpulkan karakteristik gerak lurus berubah beraturan (GLBB) melalui percobaan dan pengukuran.

b. Menerapkan besaran-besaran fisika dalam GLB dan GLBB dalam bentuk persamaan dan menggunakannya dalam pemecahan masalah

D. Tujuan Pembelajaran

Siswa dapat menyelesaikan soal-soal yang berhubungan dengan gerak lurus

E. Materi Pokok

Kinematika Gerak

F. Metode Pembelajaran

a. Inkuiri.

b. Tanya jawab.

c. Praktikum

G. Skenario Pembelajaran

H. Pendahuluan

Memberikan contoh kegiatan sehari-hari yang berkaitan dengan gerak, misalnya buah jatuh dari pohon

I. Kegiatan Inti
Gerak Lurus Berubah Beraturan ( GLBB )

a. Melakukan percobaan gerak lurus beraturan untuk menyimpulkan karakteristik GLBB dan mengukur besaran-besaran pada GLBB seperti perpindahan dan waktu tempuh

b. Menginformasikan percepatan pada GLBB, baik gerak dipercepat maupun diperlambat

c. Menginformasikan kecepatan pada GLBB

d. Menginformasikan contoh GLBB, yaitu gerak vertical ke atas dan memberikan contoh soal beserta penyelesaiannya

e. Membahas gerak vertical ke bawah dan memberikan contoh soal beserta penyelesaiannya

3. Penutup

f. Mengulas kembali pelajaran yang telah diajarkan sambil bertanya jawab dengan siswa

g. Mengevaluasi pembelajaran dengan mengerjakan latihan dalam uji kompetensi dan hasilnya dikumpulkan

J. Sumber Pembelajaran

a. Buku fisika pegangan siswa kelas X

b. LKS fisika kelas X

c. Ticker timer, papan luncur, electromagnet, mobil-mobilan dan kertas grafik

d. Power supply, statip, mistar dan kabel

e. Stop watch dan beban

K. Penilaian

Jenis tagihan : Instrumen

Tugas : Uraian

Uji Kompetensi : Uraian

L. Instrumen

a. Tentukan percepatan sebuah mobil yang mengubah kecepatannya dari 8 m/s menjadi 20 m/s dalam waktu 10 s !

b. Sebuah mobil bergerak dengan kecepatan 90 km/jam, kemudian direm hingga berhenti setelah 5 s. Hitunglah jarak yang ditempuh mobil selama pengereman

c. Batu dijatuhkan dari jurang sedalam 20 m, kapan batu tersebut sampai didasar jurang (g=10m/s2)?

d. Sebuah peluru ditembakkan vertical keatas dengan kecepatan 100 m/s, hitung tinggi maksimum peluru dan waktu yang diperlukan sampai di tanah !

e. Dua mobil bergerak dengan grafik kecepatan terhadap waktu seperti terlihat dalam grafik disamping. Tentukan kapan dan dimana kedua mobil bertemu jika keduanya berangkat bersamaan !

Mengetahui Pandeglang, Juli 2008

Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran

Drs. Entik Haerani Edi Supriyanto, S. Pd.

NIP. 131484871 NIP. 132171350

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

SEKOLAH : SMA NEGERI 7 PANDEGLANG

MATA PELAJARAN : FISIKA

KELAS / SEMESTER : X/1

ALOKASI WAKTU : 4 x 40 MENIT

A. Standar Kompetensi

Menerapkan konsep dan prinsip dasar kinematika dan dinamika benda

B. Kompetensi Dasar

Menganalisis besaran fisika pada gerak melingkar dengan kecepatan dan percepatan konstan

C. Indikator

a. Mengidentifikasi besaran frekuensi, frekuensi sudut, periode dan sudut tempuh yang terdapat pada gerak melingkar dengan laju konstan.

b. Menerapkan prinsip roda-roda yang saling berhubungan secara kualitatif.

c. Menganalisis besaran yang berhubungan dengan gerak melingkar berubah beraturan

D. Tujuan Pembelajaran

Siswa dapat menyelesaikan soal-soal yang berhubungan dengan gerak melingkar dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari

E. Materi Pokok

Kinematika Gerak

F. Metode Pembelajaran

a. Inkuiri.

b. Tanya jawab

c. Penugasan

G. Skenario Pembelajaran

1. Pendahuluan

Mengingatkan siswa tentang besaran-besaran pada gerak melingkar

2. Kegiatan Inti
Gerak Melingkar Berubah Beraturan ( GMBB )

b. Membahas persamaan lintasan sudut

c. Membahas persamaan kecepatan sudut

d. Membahas 2 macam persamaan percepatan yaitu percepatan tangensial dan percepatan sentripetal

e. Melakukan praktik bersama yang dapat dilakukan diluar kelas atau rumah

3. Penutup

f. Mengerjakan tugas secara kelompok untuk menjawab permasalahan dengan cara mencari dan membaca buku diperpustakaan dan hasilnya dijadikan bahan portofolio

g. Mengevaluasi pembelajaran dengan mengerjakan latihan dalam uji kompetensi dan hasilnya dikumpulkan

H. Sumber Pembelajaran

a. Buku fisika pegangan siswa kelas X

b. LKS fisika kelas X

c. Sepeda, stop watch, rolmeter

I. Penilaian

Jenis tagihan : Instrumen

Tugas : Uraian

Uji Kompetensi : Uraian

J. Instrumen

a. Sebuah benda bergerak melingkar pada kelajuan 1,2 m/s dengan jari-jari lintasan 1,8 m. berapa percepatan sentripetal yang dialami benda ?

b. Sebuah piringan hitam mula-mula berputar pada 3 red/s dan membuat tiga putaran penuh sebelum berhenti, hitung lah percepatan sudutnya dan lama waktu yang diperlukan hingga berhenti !

c. Sebuah roda berputar dengan kecepatan sudut 10 rad/s. Setelah 5 s kecepatannya menjadi 20 rad/s. Jika jari-jari roda 50 cm, tentukan : a. percepatan sudut roda

b. percepatan tangensial roda

c. lintasan sudut yang ditempuh setelah 8 s

Mengetahui Pandeglang, Juli 2008

Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran

Drs. Entik Haerani Edi Supriyanto, S. Pd.

NIP. 131484871 NIP. 132171350

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

SEKOLAH : SMA NEGERI 7 PANDEGLANG

MATA PELAJARAN : FISIKA

KELAS / SEMESTER : X/1

ALOKASI WAKTU : 4 x 40 MENIT

A. Standar Kompetensi

Menerapkan konsep dan prinsip dasar kinematika dan dinamika benda

B. Kompetensi Dasar

Menganalisis besaran fisika pada gerak melingkar dengan kecepatan dan percepatan konstan

C. Indikator

a. Mengidentifikasi besaran frekuensi, frekuensi sudut, periode dan sudut tempuh yang terdapat pada gerak melingkar dengan laju konstan.

b. Menerapkan prinsip roda-roda yang saling berhubungan secara kualitatif dan kuntitatif

D. Tujuan Pembelajaran

Siswa dapat menyelesaikan soal-soal yang berhubungan dengan gerak melingkar dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari

E. Materi Pokok

Kinematika Gerak

F. Metode Pembelajaran

a. Inkuiri.

b. Tanya jawab.

c. Penugasan

G. Skenario Pembelajaran

1. Pendahuluan

Menginformasikan kegiatan sehari-hari yang berhubungan dengan gerak melingkar, misalnya siswa diminta memperhatikan gerak roda sepeda atau sepeda motor saat berjalan. Roda tersebut berputar, sehingga lintasannya berupa lingkaran

2. Kegiatan Inti

a. Membahas besaran-besaran pada gerak melingkar.

b. Membahas perbedaan kecepatan linier dan kecepatan sudut.

c. Membahas perbedaan antara percepatan linier dengan percepatan sudut

Gerak Melingkar Beraturan ( GMB )

1. Menginformasikan pengertian gerak melingkar beraturan

2. Menginformasikan hubungan antar roda yang biasa digunakan dalam mesin-mesin

3. Penutup

a. Mengerjakan tugas secara kelompok untuk menjawab permasalahan dengan cara mencari dan membaca buku diperpustakaan dan hasilnya dijadikan bahan portofolio.

b. Mengevaluasi pembelajaran dengan mengerjakan latihan dalam uji kompetensi dan hasilnya dikumpulkan

H. Sumber Pembelajaran

1. Buku fisika pegangan siswa kelas X

2. LKS fisika kelas X

3. Sepeda, stop watch, rolmeter

I. Penilaian

Jenis tagihan : Instrumen

Tugas : Uraian

Uji Kompetensi : Uraian

J. Instrumen

1. Sebuah baling-baling helicopter beradius 3 m berputar 1800 rpm, tentukan kecepatan sudut dan laju linier sebuah titik diujung baling-baling !

2. Tiga roda A, B dan C terpasang seperti gambar dibawah ini

Jari-jari roda A, B dan C berturut-turut 10 cm, 5 cm dan 20 cm. Jika roda B memerlukan waktu 40 s untuk satu putaran, tentukan kecepatan linier ketiga roda !

3. Sebuah piringan berputar dengan kecepatan sudut konstan. Tentukan kecepatan sudutnya jika dalam 6 sekon piringan tersebut berputar 30 putaran .

Mengetahui Pandeglang, Juli 2008

Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran

Drs. Entik Haerani Edi Supriyanto, S. Pd.

NIP. 131484871 NIP. 132171350

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

SEKOLAH : SMA NEGERI 7 PANDEGLANG

MATA PELAJARAN : FISIKA

KELAS / SEMESTER : X/1

ALOKASI WAKTU : 8 x 40 MENIT

B. Standar Kompetensi

Menerapkan konsep dan prinsip dasar kinematika dan dinamika benda

C. Kompetensi Dasar

Menjelaskan hukum Newton sebagai konsep dasar dinamika dan mengaplikasikannya dalam persoalan-persoalan dinamika sederhana

C. Indikator

a. Melukiskan diagram gaya-gaya yang bekerja pada suatu benda.

b. Menjelaskan pengertian gaya berat dan gaya gesekan serta contoh aplikasi dalam kehidupan sehari-hari.

c. Melakukan percobaan yang berhubungan dengan hukum Newton II.

d. Menjelaskan konsep gaya sentripetal pada gerak melingkar beraturan.

e. Melakukan percobaan yang berhubungan dengan hukum Newton III.

f. Memberikan contoh penerapan hukum-hukum Newton

D. Tujuan Pembelajaran

Siswa dapat menggunakan persamaan hukum Newton untuk menyelesaikan soal-soal yang berhubungan dengan konsep gaya

E. Materi Pokok

Dinamika Gerak

F. Metode Pembelajaran

i. Inkuiri.

ii. Tanya Jawab.

iii. Penugasan

G. Skenario Pembelajaran
1. Pendahuluan

Memberikan contoh peristiwa atau kejadian yang berhubungan dengan hukum newton

2. Kegiatan Inti

a. Membahas tentang hukum Newton I yang menyatakan bahwa setiap benda akan tetap diam atau bergerak lurus beraturan kecuali ada gaya yang bekerja.

b. Memberikan contoh-contoh soal beserta penyelesaiannya tentang penerapan hukum Newton I.

c. Melakukan aktivitas bersama untuk menjelaskan hukum Newton II, yaitu menyatakan kesebandingan antara percepatan, gaya dan massa benda.

d. Membahas tentang hukum Newton II, yang secara matematis dinyatakan dengan persamaan.

e. Membahas macam-macam gaya gesekan yaitu gesekan statis dan gesekan kinetis.

f. Siswa melakukan percobaan untuk menyelidiki hubungan gaya gesekan dengan gaya normal.

g. Siswa melakukan aktivitas sederhana yang dapat dilakukan diluar laboratorium tentang gaya sentripetal.

h. Memberikan contoh soal beserta penyelesaiannya yang berhubungan dengan gaya sentripetal.

i. Membahas tentang hukum Newton III

Faksi = -Freaksi

3. Penutup

a. Mengulas kembali pelajaran didepan tentang penerapan hukum-hukum Newton dalam kehidupan sehari-hari.

b. Siswa menguji pemahamannya dengan mengerjakan soal-soal latihan yang berkaitan dengan penerapan hukum-hukum Newton

H. Sumber Pembelajaran

1. Buku fisika pegangan siswa kelas X

2. LKS fisika kelas X

3. Alat-alat yang digunakan dalam aktivitas

I. Penilaian

Jenis tagihan : Instrumen

Tugas : Uraian

Uji Kompetensi : Uraian

J. Instrumen

1. Benda yang massanya 6 kg ( g = 10 m/s2 ) terletak pada lantai mendatar kemudian dipengaruhi gaya F = 40 N condong 370 terhadap lantai ke atas. Jika selama gerak benda dipengaruhi gaya geseran kekiri sebesar f = 2 N, tentukan percepatan gerak benda !

2. Benda A dan B yang masing-masing massanya 12 kg dan 8 kg tergantung pada ujung-ujung tali dari suatu system katrol tetap. Hitung percepatan gerak benda A maupun B serta tegangan talinya !

3. Pada gambar disamping tentukan pasangan gaya aksi reaksi

4. Suatu mobil yang massanya 1 ton meluncur pada jalan yang membukit dengan kecepatan 54 km/jam, ternyata gaya tekan normal mobil terhadap jalan 8500 N. Berapa jari-jari kelengkungan jalan tersebut ?

5. Pada system gambar disamping, massa A 4 kg dan B 6 kg. Maka hitung tegangan talinya jika bidang miring licin !

Mengetahui Pandeglang, Juli 2008

Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran

Drs. Entik Haerani Edi Supriyanto, S. Pd.

NIP. 131484871 NIP. 132171350

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

SEKOLAH : SMA NEGERI 7 PANDEGLANG MATA PELAJARAN : FISIKA

KELAS / SEMESTER : X/2

ALOKASI WAKTU : 4 x 40 MENIT

A. Standar Kompetensi

Menerapkan prinsip kerja alat-alat optik

B. Kompetensi Dasar

Menganalisis alat-alat optik secara kualitatif dan kuantitatif

C. Indikator

a. Menentukan kekuatan lensa kacamata pada penderita miopi dan hipermetropi.

b. Mendeskripsikan fungsi dan bagian alat optik mata, kaca mata, lup dan mikroskop.

c. Menghitung perbesaran lup dan mikroskop.

d. Membedakan pengamatan tanpa akomodasi dan akomodasi maksimum.

e. Menganalisis pembentukan bayangan pada mata, lup dan mikroskop

D. Tujuan Pembelajaran

a. Siswa dapat menghitung kekuatan lensa kacamata.

b. Siswa dapat menyelesaikan soal-soal yang berhubungan dengan alat optic.

c. Siswa dapat menggambarkan pembentukan bayangan pada lup dan mikroskop

E. Materi Pokok

Alat Optik

F. Metode Pembelajaran

a. Inkuiri.

b. Tanya Jawab.

c. Penugasan

G. Skenario Pembelajaran
a. Pendahuluan

Memberikan beberapa contoh cacat mata dan cara mengatasinya dengan menggunakan kacamata

b. Kegiatan Inti

a. Siswa diajak berdiskusi mengenai kesamaan fungsi bagian-bagian utama mata dan kamera.

b. Mendiskusikan perbedaan antar cacat mata dan cara mengatasinya.

c. Menyelesaikan permasalahan cacat mata dengan persamaan lensa

Lup

a. Siswa diajak berdiskusi mengenai sifat-sifat bayangan pada lup.

b. Menginformasikan cara melukis bayangan pada lup.

c. Menyelesaikan permasalahan lup dengan persamaan matematis

Mikroskop

a. Mendiskusikan sifat-sifat bayangan pada mikroskop.

b. Menginformasikan cara melukis bayangan pada mikroskop.

c. Menyelesaikan permasalahan mikroskop dengan permasalahan matematis

3. Penutup

Mengevaluasi pembelajaran dengan mengerjakan latihan dalam uji kompetensi dan hasilnya dikumpulkan

H. Sumber Pembelajaran

a. Buku fisika pegangan siswa kelas X

b. LKS fisika kelas X

I. Penilaian

Jenis tagihan : Instrumen

Tugas : Uraian

Uji Kompetensi : Uraian

J. Instrumen

a. Mata miopi yang mempunyai titik jauh ( PP ) yang berjarak 8 m hendak melihat benda di tak terhingga dengan tak berakomodasi, berapa nomor kacamatanya yang harus dipakainya?

b. Tukang jam yang bermata normal mengamati onderdil jam dengan lup yang kekuatannya 20 dioptri. Jika mata berakomodasi maksimum berapa perbesaran sudutnya ?

c. Tuliskan persamaan dan perbedaan fungsi mata dan kamera !

d. Seseorang yang memiliki PP =27 cm mengemati mengamati benda dengan mikropkop yang jarak focus lensa obyektif & okulernya masing-masing 1,8 cm dan 5,4 cm. Jarak antara lensa obyektif dan okuler 24,3 cm, ternyata mata berakomodasi maksimum. Tentukan perbesaran sudut mikroskop !

e. Sebutkan sifat-sifat bayangan yang dibentuk oleh lensa obyektif pada mikroskop 1

Mengetahui Pandeglang, Juli 2008

Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran

Drs. Entik Haerani Edi Supriyanto, S. Pd.

NIP. 131484871 NIP. 132171350

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

SEKOLAH : SMA NEGERI 7 PANDEGLANG MATA PELAJARAN : FISIKA

KELAS / SEMESTER : X/2

ALOKASI WAKTU : 2 x 40 MENIT

A. Standar Kompetensi

Menerapkan prinsip kerja alat-alat optik

B. Kompetensi Dasar

Menerapkan alat-alat optik dalam kehidupan sehari-hari

C. Indikator

a. Mengidentifikasi penerapan berbagai alat optik dalam kehidupan sehari-hari

b. Merancang dan membuat teropong sederhana

D. Tujuan Pembelajaran

a. Siswa dapat merancang teropong sederhana.

b. Siswa mampu menggunakan persamaan teropong

E. Materi Pokok

Alat Optik

F. Metode Pembelajaran

a. Tanya jawab.

b. Penugasan

G. Skenario Pembelajaran
a. Pendahuluan

Siswa diajak berdiskusi mengenai sifat-sifat bayangan pada teropong

b. Kegiatan Inti

a. Siswa diajak membaca literature mengenai teropong.

b. Menginformasikan cara melukis bayangan pada teropong.

c. Menyelesaikan permasalahan teropong dengan persamaan matematis.

d. Siswa diajak berdiskusi dalam merancang dan membuat teropong sederhana, misalnya dengan menggunakan pralon dan lensa positif secara berkelompok

e. Penutup

a. Menyampaikan hasil diskusi dari masing-masing kelompok.

b. Membuat kesimpulan hasil diskusi

H. Sumber Pembelajaran

1. Buku fisika pegangan siswa kelas X

2. LKS fisika kelas X

3. Teropong mainan

I. Penilaian

Tugas : Penugasan dan hasil karya

Uji Kompetensi : Uraian

Mengetahui Pandeglang, Juli 2008

Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran

Drs. Entik Haerani Edi Supriyanto, S. Pd.

NIP. 131484871 NIP. 132171350


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

SEKOLAH : SMA NEGERI 7 PANDEGLANG

MATA PELAJARAN : FISIKA

KELAS / SEMESTER : X/2

ALOKASI WAKTU : 4 x 40 MENIT

B. Standar Kompetensi

Menerapkan konsep kalor dan prinsip konservasi energi pada berbagai perubahan energi

C. Kompetensi Dasar

Menganalisis pengaruh kalor terhadap suatu zat

D. Indikator

1. Menganalisis pengaruh kalor terhadap perubahan suhu benda.

2. Menganalisis pengaruh perubahan suhu benda terhadap ukuran benda ( pemuaian ).

3. Menganalisis pengaruh kalor terhadap perubahan wujud benda

E. Tujuan Pembelajaran

1. Siswa mampu mengkonversi suhu pada berbagai jenis thermometer.

2. Siswa dapat menyelesaikan persoalan-persoalan yang berhubungan dengan kalor

F. Materi Pokok

Suhu dan Kalor

G. Metode Pembelajaran

a. Inkuiri.

b. Tanya jawab

H. Skenario Pembelajaran
1. Pendahuluan

Mengingatkan kembali pengertian suhu dan macam-macam termometer

2. Kegiatan Inti

a. Siswa diajak berdiskusi mengenai sifat-sifat termometrik benda.

b. Mendiskusikan keunggulan raksa untuk bahan termometer.

c. Menyelesaikan permasalahan skala suhu untuk berbagai jenis termometer.

d. Membahas muai panjang, luas dan volume.

e. Membahas hubungan antara muai panjang, luas dan volume.

f. Melakukan percobaan tentang pemuaian zat padat.

g. Menyelesaikan masalah pemuaian panjang yang bersifat kuantitatif.

h. Menginformasikan pemuaian pada zat cair .

i. Membahas pemuaian gas berdasarkan hukum Gay-Lussac, Boyle dan Boyle-Gay Lussac.

j. Menggunakan persamaan kalor

Q = m c Dt

Q = m L

k. menganalisis pengaruh kalor pada suhu, ukuran benda dan wujudnya dalam pemecahan masalah melalui diskusi

3. Penutup

a. Membuat kesimpulan hasil diskusi.

b. Menyelesaikan soal-soal yang berhubungan dengan suhu, pemuaian dan kalor

I. Sumber Pembelajaran

a. Buku fisika pegangan siswa kelas X

b. LKS fisika kelas X

c. Macam-macam termometer

J. Penilaian

Jenis tagihan : Instrumen

Tugas : Uraian

Uji Kompetensi : Uraian

K. Instrumen

a. Berapa derajat celciuskah suhu 600 F ?

b. Pada sebuah termometer x, titik beku air adalah 400 x dan titik didih air adalah 2400 x. Bila sebuah benda diukur dengan termometer celcius suhunya 500 C. berapa suhu benda bila diukur dengan termometer x ?

c. Panjang sebuah tembaga adalah 1 m pada suhu 200 C. Pada suhu berapa panjang batang tembaga itu lebih panjang 1 mm ? koefisien muai tembaga = 17 x 10-6/0C

d. Tentukan kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan 500 gr air dari 250 C menjadi 650 C ! ( cair=4200 J/kg0C )

e. Berapa banyak kalor harus diambil dari 0,5 kg air 300 C untuk mengubahnya menjadi es 00 C ? ( Les= 336000 J/kg0C )

f. Dalam silinder tertutup terdapat gas yang volumenya 2,5 x 10-2 m3 pada temperatur 270 C. Berapa volume gas apabila suhunya dinaikkan menjadi 3270 C

g. Sebuah plat tipis dari bahan besi yang koefisien muai panjang 1,1 x 10-5/0C. Jika pada suhu 280 C luasnya 6 m2, tentukan pertambahan luas dan luas akhir plat tersebut setelah dipanaskan hingga suhu 1000 C.

Mengetahui Pandeglang, Juli 2008

Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran

Drs. Entik Haerani Edi Supriyanto, S. Pd.

NIP. 131484871 NIP. 132171350

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

SEKOLAH : SMA NEGERI 7 PANDEGLANG

MATA PELAJARAN : FISIKA

KELAS / SEMESTER : X/2

ALOKASI WAKTU : 4 x 40 MENIT

A. Standar Kompetensi
Menerapkan konsep kalor dan prinsip konservasi energi pada berbagai perubahan energi

B. Kompetensi Dasar

Menganalisis cara perpindahan kalor

C. Indikator

1. Menganalisis perpindahan kalor dengan cara konduksi.

2. Menganalisis perpindahan kalor dengan cara konveksi.

3. Menganalisis perpindahan kalor dengan cara radiasi

D. Tujuan Pembelajaran

Siswa dapat mengambil contoh peristiwa perpindahan kalor dalam kehidupan sehari-hari

E. Materi Pokok

Suhu dan Kalor

F. Metode Pembelajaran

1. Inkuiri.

2. Tanya jawab.

3. Demonstrasi

G. Skenario Pembelajaran
1. Pendahuluan

Mengingatkan siswa tentang macam-macam perpindahan kalor

2. Kegiatan Inti

a. Mengamati demonstrasi perpindahan kalor secara konduksi dan konveksi.

b. Mendiskusikan perbedaan konduksi, konveksi dan radiasi kalor serta penerapannya dalam pemecahan masalah.

c. Menyelesaikan permasalahan matematis tentang soal-soal perpindahan kalor

3. Penutup

a. Membuat kesimpulan hasil diskusi.

b. Menyelesaikan soal-soal yang berhubungan dengan perpindahan kalor

H. Sumber Pembelajaran

a. Buku fisika pegangan siswa kelas X

b. LKS fisika kelas X

c. Moschenbroek

d. Bejana, air, kalium permanganat

I. Penilaian

Jenis tagihan : Instrumen

Tugas : Uraian

Uji Kompetensi : Uraian

J. Instrumen

a. Sebuah ruang dengan pendingin ruang memiliki kaca jendela yang luasnya 2 m x 1,5 m dan tebalnya 3,2 mm. Jika suhu pada permukaan dalam kaca 250C dan suhu pada permukaan luar kaca 300C , berapa laju konduksi kalor yang masuk ke ruangan itu ?

b. Batang baja dan kuningan yang luas penampangnya sama, salah satu ujungnya dihubungkan. Suhu ujung bebas baja 2500C , sedangkan suhu ujung bebas kuningan 1000C .Jika konduksi kalor baja dan kuningan masing-masing 0,12 dan 0,24 kal/s cm, tentukan suhu pada titik hubung kedua batang !

c. Sebutkan masing-masing 2 contoh perpindahan kalor secara konduksi, konveksi serta radiasi.

d. Suhu kulit seseorang tanpa pakaian kira-kira 320C . Jika orang tersebut berada dalam kamar yang suhunya 220C dan luas permukaan tubuh orang 1,6 m2, berapakah kalor yang dilepaskan tubuh orang itu melalui konveksi selama 5 menit ? h = 7,1 J/sm2K

e. Sebuah plat baja tipis berbentuk persegi denga panjang sisi 10 cm dipanaskan dalam tungku sampai suhunya mencapai 1000C . jika plat baja memiliki emisivitas 0,9, berapa laju kalor radiasinya ?

Mengetahui Pandeglang, Juli 2008

Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran

Drs. Entik Haerani Edi Supriyanto, S. Pd.

NIP. 131484871 NIP. 132171350

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

SEKOLAH : SMA NEGERI 7 PANDEGLANG

MATA PELAJARAN : FISIKA

KELAS / SEMESTER : X/2

ALOKASI WAKTU : 4 x 40 MENIT

A. Standar Kompetensi

Menerapkan konsep kalor dan prinsip konservasi energi pada berbagai perubahan energi

B. Kompetensi Dasar

Menerapkan asas Black dalam pemecahan masalah

C. Indikator

1. Mendeskripsikan perbedaan kalor yang diserap dan kalor yang dilepas.

2. Menerapkan asas Black dalam peristiwa pertukaran kalor

D. Tujuan Pembelajaran

Siswa dapat menerapkan konsep pengaruh kalor terhadap suhu dan wujud zat dalam kehidupan sehari-hari

E. Materi Pokok

Suhu dan Kalor

F. Metode Pembelajaran

1. Inkuiri.

2. Tanya jawab.

3. Praktikum

G. Skenario Pembelajaran
1. Pendahuluan

Mengingatkan siswa energi kalor yang dibutuhkan untuk mengubah suhu dan wujud zat

2. Kegiatan Inti

a. Menganalisis prinsip pertukaran kalor, asas Black dan kalor jenis zat dalam diskusi kelas.

b. Menyelesaikan soal-soal yang berhubungan dengan pertukaran kalor.

c. Praktik menentukan kalor jenis logam dengan kalorimeter secara berkelompok

3. Penutup

a. Membuat laporan hasil praktikum.

b. Menyelesaikan soal-soal yang berhubungan dengan perpindahan kalor

H. Sumber Pembelajaran

a. Buku fisika pegangan siswa kelas X

b. LKS fisika kelas X

c. Kalorimeter

d. Termometer

e. Bejana, air, logam

I. Penilaian

Tugas : Laporan hasil praktikum

Uji Kompetensi : Uraian

Mengetahui Pandeglang, Juli 2008

Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran

Drs. Entik Haerani Edi Supriyanto, S. Pd.

NIP. 131484871 NIP. 132171350

Penggunaan Teknik Bertanya untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Analisis dan Konsepsi Peserta Didik tentang Dinamika Gerak Lurus

Abstraksi

Supriyanto, Edi. 2008. Penggunaan Teknik Bertanya untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Analisis dan Konsepsi Peserta Didik tentang Konsep Dinamika Gerak Lurus. PTK bagi Guru SMA. Pembimbing: Syafrizal, M. Pd.

Penjelasan mengenai konsep-konsep fisika, penyelesaian soal, praktik dengan alat-alat fisika, dan banyak kegiatan lainnya, seringkali tidak dapat dipahami dan tidak meningkatkan kompetensi peserta didik, karena peserta didik tidak dapat mengikuti jalan pikiran pendidik. Jaminan utama peserta didik memahami prinsip atau teori dalam menyelesaikan masalah adalah jalan pikiran kita harus sesuai dengan prosedur berpikir dari konsep yang kita ajarkan dan harus dapat diikuti oleh peserta didik. Agar langkah-langkah berpikir analisis yang dilakukan pendidik tampak jelas, dapat dimengerti dan diikuti oleh peserta didik, perlu dicarikan strategi atau teknik tertentu dalam pelaksanaan pembelajaran.

Penggunaan teknik bertanya dalam pembelajaran fisika dianggap sesuai untuk meningkatkan kemampuan berpikir analisis, karena untuk dapat berpikir analisis diperlukan pertanyaan-pertanyaan untuk menggali informasi sedalam-dalamnya. Sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan berpikir analsis dan memantapkan konsepsi dinamika gerak lurus dalam pembelajaran fisika penulis menggunakan teknik bertanya yang dituangkan dalam bentuk penelitian tindakan kelas.

Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk: 1) menelaah bagaimana pola penggunaan teknik bertanya dalam pembelajaran dinamika gerak lurus, 2) membantu meningkatkan kemampuan berpikir analisis dan konsepsi peserta didik tentang dinamika gerak lurus 3) mengetahui respon peserta didik terhadap penggunaan teknik bertanya dalam pembelajaran dinamika gerak lurus, 4) mengetahui peran teknik bertanya dalam membangun pengetahuan peserta didik, termasuk kekurangan dan kelebihannya, dan 5) sebagai upaya mencari alternatif lain dalam menerapkan teknik mengajar fisika sehingga peserta didik dapat membangun pengetahuannya sendiri.

Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 7 Pandeglang dengan subyek penelitian kelas X3. Penelitian dilaksanakan selama 4 bulan, yaitu pada bulan Juli s.d. Oktober 2008 yang terbagi menjadi dua siklus, setiap siklus terdiri dari 3 pertemuan tindakan dan 1 pertemuan tes akhir tindakan. Setiap siklus terdiri dari empat langkah, yaitu perencanaan, tindakan, observasi, refleksi dan analisis, serta refleksi.

Data penelitian ini dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif diperoleh dari nilai tugas, dan tes setiap akhir siklus, sedangkan data kualitatif diperoleh melalui observasi, wawancara, lembar pengamatan melalui angket, photo dan video kegiatan pembelajaran. Indikator keberhasilannya digunakan criteria ketuntasan minimal sebesar 60%.

Hasil dari penelitian ini adalah terdapat peningkatan kemampuan peserta didik untuk berpikir analisis dan konsepsi tentang dinamika gerak lurus. Namun penggunaan teknik bertanya dalam pembelajaran dinamika gerak lurus ini belum mampu meningkatkan kemampuan berpikir analisis dan konsepsi peserta didik secara keseluruhan dan baru 75% yang dinyatakan lulus. Aktivitas peserta didik dalam bertanya mengalami peningkatan sebesar 19,5%. Peran serta peserta didik dalam menjawab atau menanggapi pertanyaan juga mengalami peningkatan sebesar 15,00%. Etika, minat, sikap ilmiah, dan kemampuan unjuk kerja peserta didik secara keseluruhan mengalami peningkatan dan bersifat positif. Itu semua sejalan dengan hasil wawancara antara pendidik dan peserta didik yang diketahui bahwa sebagian besar peserta didik bergembira dan menyukai penggunaan teknik bertanya. Disarankan kepada pendidik untuk memberikan pertanyaan dengan singkat, jelas, dan memberikan kesempatan berpikir bagi peserta didik, memberikan pertanyaan yang dapat menimbulkan konflik kognitif, memberikan rangkaian pertanyaan untuk menyelidiki kasus-kasus tertentu, dan mempersiapkan pertanyaan dan kemungkinan jawaban terlebih dahulu sebelum pelaksanaan pembelajaran.

Kata Kunci: Teknik Bertanya, Berpikir Analisis, Konsepsi, Dinamika Gerak Lurus

Siaga Kecilku

ulfah5

ULFAH ANISAH SHALIHAH namanya, ini anak pertamaku. Sekarang ia  sekolah di SD Negeri Pandeglang 4 kelas II. Di usianya yang mendekati delapan tahun ini, Alhamdulillah ia sudah mulai menunjukkan punya bakat untuk berprestasi. Seak TK sampai dengan sekarang di SD ia selalu menjadi juara di kelasnya. Mudah-mudahan Allah senantiasa tetap memberikan semangat dan selalu menuntunnya ke jalan yang diridhoi-Nya. Amin.

I hope you will be success some day.

picture0067 MUHAMMAD NUGROHO AJI namanya, ia anak keduaku. Saat ini ia baru berusia 2 tahun.

“Happy Bird Day to you”

Rasa ingin tahu dan keinginnannya yang keras untuk selalu mencoba sesuatu yang baru mudah-mudahan menuntunnya ke arah pengembangan potensi dirinya yang lebih positif. Semoga Allah senantiasa membimbingnya untuk menjadi anak yang sholeh dan sholihah. Amin.

TENTANG AKU

aku3 Edi Supriyanto lahir di Tulungagung pada tanggal 1 Pebruari 1971, putera ketiga dari Bapak Tari Tarjono dan Ibu Kasmini. Tahun 1990 lulus dari SMA Negeri Gondang Tulungagung, dan tahun 1995 lulus dari Jurusan Pendidikan Fisika FPMP IKIP Negeri Malang.

Pada tahun 1993 s.d. 1997 ia aktif mengajar Fisika, Elektronika, dan Komputer dibeberapa sekolah, antara lain SMA Islam Karangploso Malang, SMT Grafika Karya Nasional Malang, SMPN 18 Malang, SMP Ardjuna Malang, dan di Lembaga Bimbingan Belajar Bela Cita Malang.

Pada tahun 1997 ia diangkat menjadi pegawai negeri sipil dan ditempatkan di SMA Negeri 1 Munjul yang sekarang berubah nama menjadi SMAN 7 Pandeglang untuk mengajar mata pelajaran Fisika dan Teknologi Informasi dan Komunikasi. Ia juga aktif membina peserta didik dengan membentuk kelompok penggemar fisika dan komputer.

Diktat yang pernah tulisnya antara lain Diktat Fisika Kelas 3 SMP Caturwulan 1 sesuai Kurikulum 1994, Diktat Fisika Kelas 3 SMP Caturwulan 2 sesuai Kurikulum 1994, Diktat Fisika Kelas 3 SMP Caturwulan 3 sesuai Kurikulum 1994, Panduan Praktikum Komputer Program Aplikasi Wordstar, Diktat Fisika Kelas I SMA Caturwulan 1 sesuai dengan Kurikulum 1994, Diktat Fisika Kelas II SMA Caturwulan 1 sesuai dengan Kurikulum 1994, Diktat Fisika Kelas I SMA Semester 1 sesuai dengan Kurikulum 2004, Diktat Komputer Program MS-Word for Windows 98, Diktat Komputer Program MS-Excel for Windows 98, Diktat Komputer Program MS-Word 2003 sebagai Penunjang Pelajaran TIK Kelas X, Diklat Komputer Program MS-Excel 2003 sebagai Penunjang Pelajaran TIK Kelas X, Cara Cepat dan Mudah Belajar Microsoft Office PowerPoint, Diktat Dasar Pemrograman Turbo Basic, dan CD Tutorial MS-Excel

Presatasi yang pernah diperoleh antara lain adalah Peserta terbaik I Materi Pengajaran pada Pelatihan Instruktur Komputer (PIKOM) yang diselenggarakan oleh El Rahma Computer Education Malang pada tahun 1995 dan  Juara ke-1 lomba Guru Berprestasi tingkat Kabupaten Pandeglang tahun 2007, Juara ke-I lomba guru Berprestasi Tingkat Provinsi Banten tahun 2007, Finalis lomba Guru Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2007, Peringkat ke-I Ujian Seleksi Calon Kepala Sekolah di Lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Pandeglang Tahun 2008

Pria kelahiran Tulungagung Provinsi Jawa Timur ini, juga memiliki kemampuan di bidang seni karawitan, pedalangan, dan seni kriya. Bahkan disela-sela kesibukannya terkadang ia masih menyempatkan untuk menyalurkan bakat seni kriyanya “tatah sungging”, yaitu dengan membuat wayang kulit atau kaligrafi dari kulit kambing atau kerbau.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.